Hiperventilasi Dapat Membuat Sesak Napas, Ketahui Penyebab dan Gejalanya

Hiperventilasi adalah kondisi medis yang ditandai dengan terlalu cepatnya bernapas. Jangan remehkan kondisi ini karena bisa menimbulkan berbagai gejala tidak sehat!

Hiperventilasi adalah kondisi medis yang terjadi ketika bernapas terlalu cepat dan terlalu dalam. Ketika kondisi ini terjadi, pasien akan mengeluarkan lebih banyak daripada yang mereka hirup.

Hati-hati karena kondisi ini dapat mengganggu kestabilan kadar karbon dioksida tubuh Anda.

Ketika tubuh kekurangan karbon dioksida, pembuluh darah menyempit, mengurangi aliran darah ke otak. Akibatnya, orang dengan bernapas berlebihan mungkin merasa pusing, kesemutan di jari-jari mereka, dan kehilangan kesadaran.

Penyebab Hiperventilasi yang Perlu Dipertimbangkan

Penyebab paling umum dari hiperventilasi adalah kecemasan, gugup, atau stres. Serangan panik adalah salah satu kondisi paling umum yang menyebabkan seseorang mengalaminya.

Mengutip Johns Hopkins Medicine, biasanya ketika seseorang menarik napas, mereka menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Ketika seseorang mengalami hiperventilasi atau bernapas berlebihan, jumlah karbon dioksida dalam tubuh berkurang dan menyebabkan kesulitan bernapas.

Pernapasan berlebihan, yang biasanya terjadi saat Anda mengalami serangan panik atau kondisi psikologis lainnya, hanya bersifat sementara.

Namun, jika terjadi cukup sering tanpa alasan, itu bisa menjadi sindrom hiperventilasi. Faktor lain yang harus diperhatikan untuk bernapas berlebihan meliputi:

  • Perdarahan
  • Penggunaan stimulan
  • Overdosis obat-obatan, seperti aspirin
  • Rasa sakit luar biasa
  • Kehamilan
  • Infeksi paru-paru, asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)
  • Serangan jantung
  • Ketoasidosis diabetik (komplikasi hiperglikemia pada orang dengan diabetes tipe 1)
  • Cedera kepala
  • Terletak di ketinggian lebih dari 6.000 kaki

Hiperventilasi adalah kondisi medis yang cenderung dialami oleh orang-orang berusia antara 15-55 tahun.

Diperkirakan juga bahwa wanita lebih rentan terhadap hiperventilasi daripada pria, terutama selama kehamilan.

Gejala Hiperventilasi Selain Pernapasan Cepat

Selain napas cepat, ada banyak gejala hiperventilasi lain yang harus diwaspadai.

  • Sesak napas (merasa tidak ada cukup udara di dalam tubuh)
  • Detak jantung lebih cepat dari biasanya
  • Butuh nafas dalam-dalam
  • Merasa pusing, lemah, atau pingsan
  • Sesak dan nyeri dada
  • Sering menguap
  • Mati rasa dan kesemutan di kaki atau tangan.

Jika salah satu gejala di atas sering terjadi, segera temui dokter Anda. Ini bisa menjadi tanda hiperventilasi, atau bisa juga penyakit lain yang tidak terdeteksi.

Cara Mengatasi Hiperventilasi

Tujuan terapi hiperventilasi adalah untuk meningkatkan kadar karbon dioksida dalam tubuh.

Saat Anda mengalami serangan bernapas berlebihan, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk mengatasinya. Juga, mintalah seseorang untuk membantu Anda mengatasi serangannya.

1. latihan pernapasan

Jika hiperventilasi terjadi di rumah, cobalah teknik pernapasan. Salah satunya adalah teknik pernapasan bibir tertutup. Tutup mulut Anda, tutup lubang hidung kanan, dan tarik napas melalui lubang hidung kiri. Kemudian ulangi pola ini secara bergantian hingga pernapasan kembali normal.

2. Menghilangkan Stres

Hiperventilasi dapat disebabkan oleh gangguan mental, seperti stres. Jadi, lakukan apa yang Anda bisa untuk membantu menghilangkan stres. Misalnya, bermeditasi, melakukan yoga, atau mencari bantuan dari psikiater.

3. Akupunktur

Akupunktur dianggap sebagai metode yang efektif untuk mengobati bernapas berlebihan. Penelitian telah menunjukkan bahwa obat Cina kuno ini dapat mencegah gangguan kecemasan dan mengurangi serangan bernapas berlebihan.

4. Bernapas dengan kantong kertas

Anda mungkin pernah melihat di film bahwa seseorang yang mengalami serangan panik atau hiperventilasi menggunakan kantong kertas untuk membantu saluran udara mereka.

Cara ini sebenarnya bisa membantu Anda mengatasi bernapas berlebihan. Saat Anda bernapas, kantong Anda terisi dengan karbon dioksida yang nantinya akan masuk ke tubuh Anda.

Setelah beberapa napas, ini dapat membantu menjaga keseimbangan pH darah dan meredakan gejala pada saat yang bersamaan.

Namun, jika Anda memiliki masalah jantung atau paru-paru dan mengalami hipoksia, sebaiknya hindari melakukan hal ini karena dapat memperburuk keadaan. Salah satunya adalah serangan jantung.

5. Obat-obatan

Tergantung pada tingkat keparahannya, dokter Anda mungkin meresepkan obat untuk mengobati serangan hiperventilasi. Obat-obatan ini termasuk alprazolam, doxepin, dan paroxetine.

Bernapas berlebihan karena kondisi medis harus ditangani berdasarkan penyebabnya. Misalnya, karena infeksi paru-paru, dokter mungkin memberikan obat untuk mengobati infeksi.

Kapan Hiperventilasi dianggap Sebagai Keadaan Darurat Medis?

Faktanya, hiperventilasi adalah kondisi medis yang harus segera ditangani oleh dokter, terutama jika disebabkan oleh suatu penyakit. Hal ini karena serangan bernapas berlebihan dapat berlangsung selama 20-30 menit.

Segera cari pertolongan medis jika salah satu gejala berikut terjadi dengan bernapas berlebihan:

  • Merasakan bernapas berlebihan untuk pertama kalinya
  • Hiperventilasi semakin parah bahkan setelah mencoba berbagai perawatan.
  • Sakit
  • Panas
  • Berdarah
  • Merasa cemas, gugup, dan gugup
  • Sering menguap
  • Detak jantung yang sangat cepat
  • Kesulitan menjaga stabilitas tubuh
  • Berputar
  • Kesemutan dan mati rasa di sekitar kaki, tangan, dan mulut
  • Nyeri dada, sesak dan sesak di dada.

Hiperventilasi yang disertai sakit kepala, perut kembung, berkeringat, pandangan kabur dan sulit berkonsentrasi juga harus segera ditangani oleh dokter.

Bagaimana Mencegah Bernapas Berlebihan

Cara mudah untuk mencegah overbreathing adalah dengan berlatih teknik pernapasan dan relaksasi. Latihan ini bisa dalam bentuk meditasi. Olahraga teratur, seperti lari dan bersepeda, juga dapat mencegah sesak napas

Sulit untuk tetap tenang dalam situasi mendesak dan panik tertentu, tetapi Anda harus diingatkan tentang semua gejala hiperventilasi yang terjadi.

Seiring waktu, setiap kali keadaan darurat terjadi, otak Anda secara otomatis mengirimkan sinyal yang menenangkan.

Ada beberapa cara untuk mencegah hiperventilasi yang bisa Anda coba, di antaranya:

  • Meditasi
  • Latihan pernapasan
  • Latihan fisik dan mental seperti tai chi dan yoga.
  • Olahraga teratur (lari, jalan kaki, bersepeda) juga dipercaya dapat mencegah bernapas berlebihan.

Tetap tenang jika hiperventilasi disebabkan oleh stres, kecemasan, atau gangguan mental lainnya. Kemudian temui dokter Anda untuk mencari tahu apa yang menyebabkan bernapas berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.